TUHAN, satu kata sacral yang bagi sebagian orang sangat controversial.Banyak diantara mereka yang menjaga bahkan menjaga jarak untuk tidak banyak membincangkannya.Tuhan, yang kita sebut sebagai Sang Maha Pencipta dan Sang Maha segalanya.Sebenarnya sangat tidak butuh dengan belaan kita.ya.mungkin tidak banyak konstruk yang menganggap seperti pikiran ini.Tuhan bukan lagi menjadi bahan bincangan asing bagiku kini.Entah bagaimana awalnya paradigma seperti ini mulai tumbuh dibenak ini.
Masih sangat segar diingatanku, dulu, ketika sedikit asupan pendidikan pesantren salaf aku enyam.Berbagai konstruk tentang kebesaran Tuhan ditanamkan dalam – dalam.Mulai dari Dia Sang Maha Pencipta ,Dia yang menciptakan segala yang ada di dunia ini, Dia yang menguasai segala waktu dan alam, Dia yang tak bergantung kepada yang lainnya.Dan sampai dia yang Maha beda dengan Makhluknya.
Masih sangat segar diingatanku, dulu, ketika sedikit asupan pendidikan pesantren salaf aku enyam.Berbagai konstruk tentang kebesaran Tuhan ditanamkan dalam – dalam.Mulai dari Dia Sang Maha Pencipta ,Dia yang menciptakan segala yang ada di dunia ini, Dia yang menguasai segala waktu dan alam, Dia yang tak bergantung kepada yang lainnya.Dan sampai dia yang Maha beda dengan Makhluknya.
Ya.Tuhan memang sangat kompleks dan sangat sulit untuk kita jamah.Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa manusia masih dibatasi oleh rasio dan materi yang melingkupinya.Dan entah apakah ini sopan atau tidak dibolehkan bahkan mungkin diharamkan oleh Tuhan ketika kita mecoba membincangkan atau mendescripsikannya terlalu dalam.Tapi, naluriyah kita sebagai makhluk yang selalu ingin tahu membuat mereka yang selalu haus akan ilmu pengetahuan selalu memburu berita tentang Tuhan serta segala eksistensinya.
“Man ‘arafa nafsahu faqod’arofarabbahu “ statement ini begitu dalam ketika kita mencermatinya .Entah, sampai sekarangpun masih saja belum kutemukan jawaban yang mudah ku cerna ketika kutanyakan kepada orang – orang yang sempat mengajakku membincangkan tentang Tuhan.mengutip statement diatas, apakah kita, sebagai makhluk ini bisa merepresentasikan Tuhan??? Lalu bagaimana implikasi dari statement itu ketika kita bisa memahami “diri kita “, kita bisa memahami Tuhan???
Konstruk tentang Tuhan mulai tertanam dulu, ketika forum diskusi disuatu malam yang heboh dan gempar membincangkan tentang Tuhan.Satu pertanyaan yang masih ku ingat, “Dimana Tuhan mu???” .Entah, sampai sekarangpun masih saja jawaban – jawabanku masih bisa dibantahkan oleh forum ketika itu.Namun, bagiku Tuhan sangatlah dekat dengan ku.Bahkan sedekat Urat Nadi Leher ini.kepercayaan itu harus tetap ada.Karena, jasad ini ada hanya karena ada-Nya.
Mungkin diskusi ini tak akan pernah ada akhir dan kesimpulannya.Setiap individu dari kita haruslah faham akan eksistensi kita masing – masing.Untu lebih memahami hidup didunia ini.Proses kita tak akan pernah berhenti sebelum ajal sampai diseparoh tenggorokan kita.Pencarian Tuhan, sampai nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar